Laporan Payakumbuh — Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, menegaskan bahwa tradisi khatam Al-Qur’an tidak hanya menjadi simbol keberhasilan membaca kitab suci, tetapi juga fondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlak, tangguh, dan berintegritas. Hal itu ia sampaikan dalam sebuah kegiatan keagamaan yang dihadiri ratusan pelajar dan orang tua di Kota Payakumbuh.
Khatam Al-Qur’an Bukan Sekadar Seremonial
Dalam sambutannya, Wawako menekankan bahwa makna khatam Al-Qur’an harus dipahami secara lebih dalam. Menurutnya, proses belajar membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an menjadi bagian yang tidak boleh berhenti hanya karena seorang anak sudah dinyatakan khatam.
“Khatam bukan berarti selesai. Ini adalah titik awal perjalanan anak-anak kita dalam memahami nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh Al-Qur’an,” tutur Elzadaswarman.
Ia menilai, tantangan generasi muda di era digital semakin kompleks—mulai dari penyalahgunaan teknologi, kenakalan remaja, hingga degradasi moral. Karena itu, Al-Qur’an harus menjadi pegangan yang mampu mengarahkan perilaku generasi muda ke arah yang positif.
Pemerintah Dukung Pendidikan Qur’ani
Wawako menegaskan bahwa Pemerintah Kota Payakumbuh tetap konsisten mendukung penguatan pendidikan berbasis Al-Qur’an. Pemerintah memberikan ruang bagi seluruh TPQ, rumah tahfiz, dan lembaga pendidikan Islam untuk mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang lebih kreatif.
“Kami akan selalu hadir memberikan dukungan, baik melalui pembinaan maupun fasilitasi kegiatan keagamaan. Semuanya demi membentuk generasi Qur’ani yang memberi manfaat bagi bangsa,” katanya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para guru mengaji yang selama ini telah berjuang membimbing anak-anak dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Baca juga: Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Hadiri Rakornas Kepegawaian 2025
Orang Tua Diminta Aktif Mengawasi dan Mengarahkan
Selain peran lembaga pendidikan, Wawako menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam menjaga konsistensi anak-anak dalam membaca dan mempelajari Al-Qur’an di rumah.
“Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak. Bimbingan dan teladan dari orang tua sangat menentukan keberlanjutan pendidikan Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia meminta agar pendidikan agama tidak hanya diserahkan kepada sekolah atau guru mengaji, tetapi menjadi kerja bersama antara keluarga, lingkungan, dan pemerintah.
Generasi Muda Harus Jadi Teladan
Elzadaswarman mengharapkan para peserta khatam Al-Qur’an menjadi generasi yang mampu membawa perubahan positif di Payakumbuh. Menurutnya, generasi Qur’ani adalah generasi yang disiplin, menghormati orang tua, mencintai ilmu, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan masyarakat.
“Anak-anak kita harus tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, jujur, dan beradab. Itulah esensi pendidikan Al-Qur’an,” tegasnya.
Penutup: Tradisi Keagamaan Perkuat Identitas Daerah
Kegiatan keagamaan seperti khatam Al-Qur’an dinilai turut memperkuat identitas budaya dan religius masyarakat Payakumbuh. Pemerintah berharap tradisi tersebut terus dilestarikan secara turun-temurun sebagai bagian dari kekuatan spiritual dan sosial masyarakat.





